Para Ilmuwan Mengatakan Bahwa Ada Sekitar 1 Miliar Orang Terancam Mengalami Gelombang Panas yang Sangat Ekstrem

Jakarta - Satu miliar orang akan terpengaruh tekanan panas yang ekstrem jika krisis iklim menaikkan suhu bumi secara worldwide hanya 2 derajat Celcius, menurut penelitian yang dirilis Met Office Inggris di KTT iklim COP26. Para ilmuwan mengatakan itu akan menjadi peningkatan 15 kali lipat dibandingkan saat ini.

Tujuan utama COP26 adalah untuk menjaga peluang membatasi pemanasan international hingga 1,5 derajat Celcius tetap hidup, tetapi para delegasi mengatakan pada pekan terakhir KTT, ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Met Workplace menilai suhu bola basah, yang menggabungkan panas dan kelembaban. Setelah suhu ini mencapai 35 derajat Celcius, tubuh manusia tidak dapat mendinginkan dirinya sendiri dengan berkeringat dan bahkan orang sehat yang duduk di tempat teduh akan mati dalam waktu enam jam. Analisis Met Office menggunakan batas suhu bola basah 32 derajat Celcius di mana pekerja harus beristirahat secara teratur untuk menghindari kelelahan akibat panas, setidaknya selama 10 hari dalam setahun.

Jika upaya untuk menghentikan krisis iklim gagal dan suhu naik sampai 4 derajat Celcius, separuh populasi dunia akan mengalami tekanan panas ekstrem ini. Demikian dikutip dari The Guardian, Selasa (9/11).

Panas adalah dampak paling nyata pemanasan international dan panas ekstrem di berbagai kota di seluruh dunia yang telah meningkat tiga kali lipat dalam beberapa dekade terakhir, menurut penelitian terbaru. Pada musim panas 2020, lebih dari seperempat populasi AS mengalami dampak panas ekstrem, dengan gejala seperti mual dan kejang.

Sedikitnya 166.000 orang meninggal karena gelombang panas di seluruh dunia dalam dua dekade pada 2017, menurut WHO. Pemerintah Inggris telah berulang kali diperingatkan penasihat iklim bahwa negara itu tidak siap menghadapi meningkatnya panas, khususnya di lokasi-lokasi yang rentan seperti rumah sakit dan sekolah.

Analisis Met Office berasal dari penelitian proyek Helix yang didanai Uni Eropa, yang juga memetakan meningkatnya risiko sungai banjir, kebakaran hutan, kekeringan, dan kelangkaan makanan.

"Salah satu dampak iklim menghadirkan visi masa depan yang menakutkan. Tapi, tentu saja, perubahan iklim yang parah akan mendorong banyak dampak, dan peta kami menunjukkan bahwa beberapa wilayah akan dipengaruhi oleh banyak faktor," jelas Andy Wiltshire, di Met Office.
Negara-negara tropis seperti Brasil, Ethiopia, dan India fading parah terkena tekanan panas ekstrem, di mana beberapa wilayah mencapai batas kemampuan hidup manusia.

"Peta-peta ini mengungkapkan wilayah dunia di mana dampak terburuk diproyeksikan bakal terjadi. Namun, semua wilayah dunia, termasuk Inggris dan Eropa, diperkirakan akan mengalami dampak berlanjut dari perubahan iklim," jelas Direktur Met Office Hadley Centre, Prof Albert Klein Tank.

Para ilmuwan telah memperingatkan soal tingkat panas dan kelembaban yang mematikan selama beberapa tahun. Penelitian 2015 menunjukkan, Teluk di Timur Tengah, jantung industri minyak dunia, diperkirakan mengalami gelombang panas melampaui batas ketahanan hidup manusia jika perubahan iklim tidak ditangani.

Menurut penelitian 2018, tempat paling mematikan di earth ini yang bakal terkena gelombang panas ekstrem di masa depan di dataran China utara, salah satu kawasan paling padat di dunia dan wilayah produksi pangan paling penting di negara tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemerintah Jerman Larang Warganya yang Tidak Melakukan Vaksinasi Untuk Masuk ke Tempat Umum

Menteri Kesehatan Akui di Kemenkes Ada Kasus Covid-19 Tak Usah Lockdown se-Dki, Cukup WFH 2 Minggu

Perusahaan Google Akan Memecat Karyawan yang Tolak Vaksinasi